Tampilkan postingan dengan label IPA KIMIA XI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IPA KIMIA XI. Tampilkan semua postingan

LAJU REAKSI

Sabtu, 05 Mei 2012


Laju menyatakan seberapa cepat atau seberapa lambat suatu proses berlangsung. Laju juga menyatakan besarnya perubahan yang terjadi dalam satu satua waktu. Satuan waktu dapat berupa detik, menit, jam, hari atau tahun.
Reaksi kimia adalah proses perubahan zat pereaksi menjadi produk. Seiring dengan bertambahnya waktu reaksi, maka jumlah zat peraksi semakin sedikit, sedangkan produk semakin banyak. Laju reaksi dinyatakan sebagai laju berkurangnya pereaksi atau laju terbentuknya produk.
Banyak hal yang mempengaruhi kecepatan reaksi biasanya kecepatan suatu reaksi dipengaruhi oleh beberapa factor sekaligus dan ada kalanya factor-faktor ini saling mempengaruhi satu sama lain.
Beberapa factor yang mempengauhi kecepatan reaksi adalah:
Sifat alami suatu reaksi. Beberapa reaksi memang secara alami lambat atau lebih cepat dibandingkan yang lain. Jumlah spesies yang ikut bereaksi serta keadaan fisik reaktan, ataupun kekompleksan jalanya (mekanisme reaksi) dan factor lain sangat menentukan kecepatan laju reaksi.
Konsentrasi reaktan. Karena persamaan laju reaksi didefinisikan dalam bentuk konsentrsi reaktan maka dengan naiknya konsentrasi maka naik pula kecepatan reaksinya. Artinya semakin tinggi konsentrasi maka semakin banyak molekul reaktan yang tersedia denngan demikian kemungkinan bertumbukan akan semakin banyak juga sehingga kecepatan reaksi meningkat.
Tekanan. Reaksi yang melibatkan gas, kecepatan reaksinya berbanding lurus dengan kenaikan tekanan dimana factor tekanan ini ekuivalen dengan konsentrasi gas.
Orde reaksi. Orde reaksi menentukan seberapa besar konsentrasi reaktan berpengaruh pada kecepatan reaksi.
Temperatur. Temperature berhubungan dengan energi kinetic yang dimiliki molekul-molekul reaktan dalam kecenderungannya bertumbukan. Kenaikan suhu umumnya menyediakan energi yang cukup bagi molekul reaktan untuk meningkatkan tumbukan antar molekul. Akan tetapi tidak semua reaksi dipengaruhi oleh temperature, terdapat reaksi yang independent terhadap temperature yaitu reaksi akan berjalan melambat saat temperature di naikkan seperti reaksi yang melibatkan radikal bebas.
Pelarut itu Banyak reaksi yang terjadi dalam larutan dan melibatkan pelarut. Sifat pelarut baik terhadap reaktan, hasil intermediate, dan produknya mempengaruhi laju reaksi. Seperti sifat solvasi pelarut terhadap ion dalam pelarut dan kekuatan interaksi ion dan pelarut dalam pembentukan counter ion.
Radiasi elektromagnetik dan Intensitas Cahaya. Radiasi elektromagnetik dan cahaya merupakan salah satu bentuk energi. Molekul-molekul reaktan dapat menyerap kedua bentuk energi ini sehingga mereka terpenuhi atau meningkatkan energinya sehingga meningkatkan terjadinya tumbukan antar molekul
Katalis. Adanya katalis dalam suatu sitem reaksi akan meningkatkan kecepatan reaksi disebabkan katalis menurunkan energi aktifasi. Dengan penurunan energi aktifasi ini maka energi minimum yang dibutuhkan untuk terjadinya tumbukkan semakin berkurang sehingga mempercepat terjadinya reaksi.
Pengadukan. Proses pengadukan mempengaruhi kecepatan reaksi yang melibatkan sistem heterogen. Seperti reaksi yang melibatkan dua fasa yaitu fasa padatan dan fasa cair seperti melarutkan serbuk besi dalam larutan HCl, dengan pengadukan maka reaksi akan cepat berjalan.

TERMOKIMIA



Eksoterm dan endoterm merupakan 2 jenis reaksi termokimia. Yang pertama marilah kita mengetahui lebih dalam lagi apakah yang dimaksud dengan eksoterm dan endoterm menurut bahasa kimianya.
Reaksi Eksoterm merupakan reaksi kimia dengan system melepaskan kalor kelingkungannya.pada reaksi eksoterm, suhu campuran reaksi akan naik dan energy potensial dari zat-zat kimia yang bersangkutan akan turun.reaksi eksoterm ada yang terjadi secara alami dan ada yang terjadi secara buatan.
Reaksi endoterm merupakan reaksi kimia dengan system menyerap kalor dari lingkungannya.pada reaksi ini, terjadi kenaikan energy potensial zat-zat yang bereaksi atau terjadi penurunan energy kinetic sehingga suhu system turun.
Prinsip dasar calorimeter adalah kalor atau perubahan entalpi (∆H) suatu reaksi kimia dengan menggunakan alat yang disebut calorimeter. Perhitungan entalpi reaksi berkaitan dengan kapsitas panas dan kalor jenis.
Kapasitas kalor jenis (C) adalah jumlah panas yang diperlukan untuk mengubah suhu suatu benda sebesar 1 . Kapasitas panas bersifat akstensif yang berarti bahwa bergantung pada ukuran zat. Misalnya, kapasitas panas 1 g air=4,18 j/ dangkan kapasitas panas 100 g air = 418 j/ .
Kalor jenis ( C ) adalah jumlah panas yang diperlukan untuk meningkatkan suhu 1 g zat sebesar 1 . Panas spesifik bersifat intensif ( jumlahnya tidak bergantung pada ukuran zat). Misalnya panas spesifiknya air 4,18 J.g-1 , sedangkan panas spesifiknya besi hanya 0,452 J.g-1. -1 . berarti, jumlah panas yang dapat diperlukan untuk memanaskan besi 1 g sebesar 1 lebih sedikit dari pana air.

TITRASI ASAM BASA



Tujuan :
Menentukan konsentrasi NaOH dengan cara menetrasikan larutan HCl yang volume dan konsentrasinya tertentu dengan larutan NaOH yang akan ditentukan konsentrasinya.
Membuat kurva titrasi.
Alat dan Bahan :Alat dan Bahan
1. Buret dan statif 5. Corong
2. Labu elmeyer 6. Larutan HCl 0,1 M
3.Gelas ukur 7. Larutan NaOH x M
4. Gelas kimia 8. Indikator PP

Cara Kerja :
Mengambil HCl 0,1 M sebanyak 20 ml lalu tuangkan ke dalam labu elmeyer dan beri 2-3 tetes indikator PP.
Mengambil NaOH secukupnya dengan gelas kimia lalu tuangkan menggunakan corong ke dalam buret setelah ditutup krannya sampai angka nol (0).
Membuka kran sedikit demi sedikit sehingga NaOH menetes ke labu elmeyer yang berisi HCl sambil diguncang-guncangkan. Menghentikan tetesan NaOH sampai warna larutan di labu elmeyer tepat akan merah.
Pengamatan :No. Volume HCl 0,1 M Volume NaOH x M
1. 20 ml 17,5 ml
2. 20 ml 17 ml
3. 20 ml 17,5 ml
Rata-rata 52/3 = 17,3 ml

Warna larutan tepat akan merah TAT (Titik Akhir Titrasi)
HCl penetralan (H2O)
V1.M1 = V2.M2
20.0,1 = 17,3.M2
M2 = 0,12 M
20 ml NaOH + 20 ml HCl → NaCl + H2O
M : 2,4 2
B : 2 2 2 2
S : 0,4 0 2 2
[NaOH] = 0,4/40 = 0,01
[OH-] = 10-2
pOH = 2
pH = 12
Kurva :Volume NaOH 0,1 M Volume HCl pH Campuran
0 ml 20 ml 1
5 ml 20 ml 2 – log 56
10 ml 20 ml 2
15 ml 20 ml 3 – log 5
20 ml 20 ml 12
25 ml 20 ml 12 + log 2
30 ml 20 ml 11 + log 32
35 ml 20 ml 12 + log 4
40 ml 20 ml 12 +log 46
45 ml 20 ml 11 + log 52
50 ml 20 ml 11 + log 57

Kesimpulan :
Titrasi asam basa adalah titrasi yang berdasarkan reaksi penetralan asam dan basa.
Titik akhir adalah pH saat indicator berubah warna (tepat akan merah).
Kurva titrasi adalah grafik.
Titrasi dibagi menjadi 3, yaitu:
- Titrasi asam kuat dengan basa kuat.
- Titrasi asam lemah dengan basa kuat.
- Titrasi basa lemah dengan asam.
Jika pH pada asam ditetesi basa maka pH larutan akan naik, dan sebaliknya jika basa ditetesi asam maka pH larutan akan turun.